Tweet to @yudaheri Follow @yudaheri

Text 1 Apr Arahan dari Sang Esa

Ada satu fakta tentang gue, sangat benci ikut kegiatan yang harus menguras tenaga dan kegiatan itu suka melibatkan variabel iman.

Itulah sebabnya gue udah lama menolak untuk terlibat dalam segala kegiatan persekutuan mahasiswa kristen di lingkungan kampus. Dan kali ini gue mau menerima ikut dalam kepanitiaan yang namanya retret. Ga konsisten dengan fakta ? belum tentu coy. Sewaktu gue diminta tolong untuk ngebantu kegiatan ini, gue mau dimasukin di divisi yang kalo dinilai secara profesional ga perlu ada di dunia ini karena jobdesknya agak gak jelas dan jatuhnya seakan kerjaannya ga membutuhkan tenaga yang besar. Dari bentuk awalnya aja gue udah ngerasa kalo kegiatan ini bakal ribet pengerjaannya. Tapi entah kenapa Tuhan ga mengijinkan sedikit pun opini negatif untuk mampir dan bikin gue dengan tegas menolak untuk ikut kegiatan ini.

Selama kuliah, gue udah sering ikut dalam berbagai kegiatan, mulai dari yang lingkupnya sekecil himpunan hingga menempati posisi penting di kegiatan dengan lingkup nasional. Hal ini yang membuat gue terlatih dalam mengorganisir suatu kegiatan dan ga heran kalo seorang alumni di Navigator pernah bilang “cepat-cepatlah kau lulus ri, biar ada yang mengorganisir alumni untuk ketemuan”. 

Bagaimana dengan mengatur sebuah kegiatan dengan spesies retret? Sulitkah ? Tentu ngga. Cukup 2 kata “tentu ngga”, itulah yang ada dalam pikiran gue saat  baru ikutan rapat kegiatan retret kampus bandung ini. Selain nyari dana dan nyari peserta, semua kegiatan bisa gue kerjain “sendiri” dari januari akhir hingga hari-H dengan 3 konsep perencanaan. Sombong ? maklumlah, namanya juga anak muda yang sudah ditempuh dalam berbagai medan dengan keyakinan yang membara. Dan nanti akan gue ceritain bagaimana gue dibikin mencium tanah sama Tuhan.

Seakan waktu berjalan, kebencian terhadap pengunaan kata iman semakin tumbuh. Entah kenapa gue ngerasa iman sering digunakan secara sembarangan untuk ga bersikap antisipatif. Berarti gue ga beriman? Bukan. Gue paling suka dengan ” Do the best, and let GOD do the rest”, akan tetapi yang sering gue temui adalah kita biasanya ga pernah benar-benar “Do the best” saat melibatkan variabel iman dan biasanya kita juga ga pernah benar-benar mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk. Kebencian yang bikin gue mulai acuh atak acuh dan juga mulai berani berontak dikit. Mulai menumbuhkan niat untuk pergi dari lingkungan ini. 

Seiring mendekatnya waktu pelaksanaan beberapa ketidaksempurnaan dan keputusan yang menurut gue salah diambil pun terjadi. As I predict, itulah yang terngiang dipikiran gue. Dan akhrinya Tuhan datang pada gue dengan membawa hadiah yang sangat indah, MASALAH. Masalah yang diberikannya sebenarnya gampang, tapi kok rasanya agak berat untuk diselesaikan. Seakan Dia pengen mempermalukan gue karena berani sombong dengan kemampuan sendiri. Selama proses pengerjaan retret ini, tak sekalipun gue berdoa meminta bantuan padaNya. Tak sekalipun gue rela meluangkan waktu untuk bercerita tentangnya mengenai keluh kesah gue walaupun sudah sering kali diingatkan melalui grup panitia retret. Sikap antisipatif gue membawa gue pada satu hal yang sangat fatal, melupakanNya. Dia datang membawa masalah bagi yang lain, tapi harus gue yang ngerjain. Masalah itu gue terjemahin seperti ” katanya mampu. cots ah “. Seketika itu gue dijatuhkan hingga mencium bumi. Seketika itu gue sadar bahwa sikap antisipatif gue sudah kelewat batas, terlalu lancang karena tak menganggap hadiratNya. Gue pernah dengar quote “GOD has a beautiful plan for us. Unfortunately, we are distracted while He is directing us to His plan”. Dan saat gue hampir teralihkan, dia mengirimkan masalah untuk membenarkan arah gue. Dia membuat gue “terpaksa” mengerjakan masalah itu (agak lebay juga sih kalo dibilang masalah) agar retret bisa berjalan dengan gangguan yang ga terlalu banyak karena Dia pengen gue dengar beberapa firmanNya di retret ini, merasa ditampar dan sadar.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, akhirnya entah kenapa gue ga tega ngebiarin retret ini. Entah kenapa, bersama seorang partner kami mengambil beberapa inisiatif untuk mengatasi beberapa keputusan yang menurut gue salah diambil. Entah kenapa gue mau mengajukan diri untuk menyediakan beberapa kebutuhan yang agak sulit dipenuhi. Lo bayangin aja coy, dimana gue nyari bambu coba. Entah kenapa gue mau begadang demi nyusun daftar penghuni kamar dengan menggunakan banyak banget pertimbangan dengan harapan interaksi terjadi maksimal. Entah kenapa gue rela memotong waktu nyantai demi memastikan para peserta berangkat tanpa ketinggalan. Entah kenapa juga gue rela cape-cape demi hal yang ga ada manfaatnya buat gue. Entah kenapa tiba-tiba pola pikir gue tiba-tiba berubah.

Jumlah peserta yang jauh dari target membuat gue cukup ngerasa jatuh seakan Tuhan ga merestui retret ini. Jumlahnya memang As I Predict, tapi tetap aja berharap paling ngga beda tipislah selisihnya ama target. Hingga pembimbing pelayanan bilang ke gue, kalo gue ga boleh ngejadiin kuantitas sebagai tolak ukur keberhasilan. Kalaupun cuma sedikit yang ikut tapi mereka merasa terberkati, maka itu udah berhasil banget. 

Dan hingga hari pelaksanaan, berbagai cobaan datang. Untuk pertama kalinya, selama 2 hari berturut-turut gue makan obat hipertensi 2 kali dosis normal. Tapi untuk pertama kalinya juga gue menemukan ketidaksempurnaan dan memakluminya. Untuk pertama kalinya gue bisa begadang, tidur 3 jam dan bangun tanpa bantuan alarm. Untuk pertama kalinya gue nemu retret yang bisa bikin orang-orang yang awalnya ga saling kenal jadi kompak seakan udah bertahun-tahun kenal. Untuk pertama kalinya gue nemu peserta retret yang kecewa retretnya mau udahan karena mereka ngerasain sukacita. Untuk pertama kalinya gue nemuin orang yang malas saat teduh tapi jadi semangat saat teduh di retret ini. Untuk pertama kalinya gue ngerasa kangen banget sama Tuhan dan pengen bersamaNya terus.

Akhirnya adalah sebuah happy ending. Wajah sukacita terpancar dari masing-masing peserta. Otot-otot tangan yang tegang, hamstring yang kambuh, goresan-goresan tipis di badan, dan darah yang beberapa kali mengalir dari tangan tak ada artinya dengan wajah sukacita itu. Terlebih saat melihat seorang wanita yang curi-curi pandang pada seorang pria, saat seorang pria berusaha keras menanyakan data seorang wanita pada panitia, saat beberapa wanita serentak mengganti foto di BBMnya dengan seorang pria tampan dan yang paling pecah menuru gue adalah saat seorang wanita diam-diam memfoto seorang pria.

Lo dapat apa her ? 

Banyak. Satu hal yang paling penting adalah gue harus memperbaiki visi yang udah gue tetapkan sebelumnya. Bukan merubahnya secara total, tapi merubah motivasinya. Mungkin Dia pengen kalo gue melibatkanNya dalam proses penjemputan visi gue, dan tujuan akhir dari visi adalah Dia. 

Gue dapat oleh-oleh berupa satu ayat yang cukup berkesan bagi gue dalam 1 Korintus 15: 38 yang berbunyi:

 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Defenisikan sendiri kawan.

 

Saat retret berlangsung gue juga dapat kabar kalo bokap sakit dan akan dibawa ke Penang. Terakhir kali kesana sih agak parah, semoga kali ini ga terlalu parah. Cuma sayangnya pikiran gue akhirnya bercabang dan berbagai sikap jelek pun terlihat. Tapi gue percaya saat itupun Dia sedang mengarahkan gue.

Text 6 Mar dokter….

Pernah dengar Prita Mulyasari ? bagi yang mungkin belum tahu siapa si kawan ini, simaklah baik-baik. Ibu ini cuma ibu rumah tangga biasa sebelum tahun 2009. Pada tahun 2009, dia berjodoh dengan sebuah penyakit dan penyakit itu salah didiagnosis oleh salah satu dokter di rumah sakit yang kabarnya rumah sakit elit. Sejujurnya kenapa gue pake istilah rumah sakit elit, adalah karena takut ntar ada orang rumah sakitnya yang ngeliat ketikan ini terus gue digugat dan dipenjara pula kayak bu Prita.

Sekitar tahun 2006, sepupu gue yang anak kedokteran di salah satu universitas negeri di pulau sumatera ( lagi-lagi disamarkan banget karena takut dituntut ) bercerita kalau dia nyari orang-orang dengan penyakit “cupu” untuk diobati karena dia bakal diuji dengan ngobatin 5 orang ( siapapun orangnya, yang penting datang pas dia diuji ). Cerdik, karena dia mempersiapkan dirinya dengan baik. Salah satu temannya sial karena saat giliran dia, datanglah seorang yang kulitnya kayak lilin dan dia pun kebingungan. Sekali lagi cerdik. Salah ? tentu ngga.

Malam ini teman gue dimintain tolong temannya yang lagi kuliah di fakultas kedokteran gigi yang katanya kalau mau lulus harus diuji sama seperti sepupu gue tadi. Akhirnya gue bilang kalo rata-rata mahasiswa kedokteran apapun itu melakukan hal begituan. Nyari pasien yang nyaris sehat buat diperiksa untuk menghindari hal-hal buruk kayak teman sepupu gue tadi. Maksud perkataan gue adalah mereka cerdik, sayang si kawan ini emang orangnya susah objektif dan jadinya salah nangkap maksud gue. Dipikirnya gue cuma ngejelek-jelekin aksi mahasiswa itu. Tapi kalaupun iya, gue ga akan menyesal karena sejujurnya gue sangat kecewa dengan tindakan mereka. Cerdik ? ya. Tapi lo mau ditangani oleh yang punya latar belakang kayak gitu ?

Tapi gue ga menghakimi kalau semua mahasiswa kedokteran (kedokteran apapun itu) seperti itu loh ya. Di Indonesia masih banyak dokter hebat dari lulusan universitas dalam negeri. 

Dengar-dengar dari kerabat yang berkecimpung didunia kedokteran, katanya apa yg mereka pelajari itu juga bakal mereka terapkan. Beda sama anak ekonomi yang kuliahnya dan kerjanya cuma bakal in line kalo lo kerjanya jadi dosen, peneliti, konsultan, atau auditor. Dan sampai sekarang gue belum pernah dengar lulusan kedokteran dari universitas manapun pas awal karirnya ga jadi dokter umum dan lulusan kedokteran gigi pas awal karirnya ga jadi dokter gigi.

Gue bersyukur kalau keluarga dekat gue ga sampai jadi korban malpraktik yang sampe parah banget. Tapi biar gue ceritain sedikit tentang pengalaman keluarga dan saudara - saudara gue yang berhubungan ama dokter :

David Sembiring, itu nama bokap gue. Kalau dia mempercayai dokter terbaik di rumah sakit yang katanya terbak di kota medan, mungkin 6 tahun yang lalu dia udah bersama Tuhan. Waktu itu keluhannya simpel, cuma ga enak tidur diposisi apapun dan dokter bilang ga ada apa-apa. Untungnya beberapa bulan sebelumnya kakek gue meninggal dengan keluhan awal yang sama. Karena sepulang dari rumah sakit masih ga sembuh juga, dilarikanlah bokap gue ini ke Pulau Pinang ( biasa dikenal penang ) karena nyokap takut berakhir sama dengan kakek gue. Tau apa hasilnya ? Tumor jenis baru. Bokap gue jadi orang pertama yang mengidap penyakit itu.

Kak Siska, begitu kami biasa memanggilnya. Saat itu dia adalah seorang ibu dengan anak kembar tiga yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Saat dia meninggal, anaknya mungkin masih berumur 1 atau 2 tahun. Apa penyebab meninggalnya ? hanya karena cabut gigi di dokter. Sepele kan ? tapi efeknya bisa kayak gitu loh

Victor Sembiring, saudara kembar bokap gue. Pasangan kembar ini emang kompak banget dalam hal penyakit. Beruntungnya saat ini dia masih hidup dan semua itu karena kasih karunia Tuhan. Kenapa dengan bapak ini ? cuma didiagnosis keropos tulang sama dokter kok. Beruntung akhinrya dia dibawa ke tempat yang sama dengan bokap gue di Pulau Pinang, sehingga ketahuan penyakit sebenarnya. Kanker ! ya, kanker yang udah menyebar dan berpusat di ginjal kalo ga salah. Tulang rusuknya udah keropos parah, bahkan salah satu ruasnya udah habis.

Atas dasar pengalaman tersebutlah, maka gue ga mau mendukung kecerdikan teman-teman mahasiswa itu. Diatas ada tiga pengalaman, 1 selamat, 1 tidak beruntung, dan 1 lagi sangat terlambat. Mau ?

Oiya, tulisan ini sedikit dilatarbelakangi bumbu-bumbu egoisme. Tanpa memperdulikan seorang dokter yang biasanya bener kalo nyembuhin keluarga gue. Juga dengan anggapan kalo dokter itu ga boleh bermain-main dengan pasiennya. Bagi gue, tanpa alasan apapun dokter harus terus berhati-hati saat menghadapi pasiennya.

Quote 26 Feb 272 notes
Dengan penampilan yang sama, seorang perempuan bisa terlihat lebih cantik tiap harinya, mungkin sang pria jatuh cinta.
— 

Kuncoro Atmojo

(via kurniawangunadi)

Text 20 Feb I love you. I love you not ?

I care to you. You care to him

I pray for you. You pray for him

I miss you. You miss him

I stand for you. You stand for him

I make you smile. You make him smile

I fight for you. You fight for him

I watch you. You watch him

I greet you. You greet him

I think about you. You think about him

I stalk you. You stalk him

I learn abou you. You learn about him

I love you. You love him

I see you. You see him

I trust you. You trust him

I know you. You know him

I help you. You help him

I defend you. You defend him

I accept you. You accept him

I admire you. You admire him

I agree with you. You agree with him

I approach you. You approach him

I wait for you. You wait for him

I’m proud of you. You’reproud of him

I call you. You call him

I chase you. You chase him

I choose you. You choose him

I come to you. You come to him

I gaze you, You gaze him

I honour you. You honour him

I imagine you. You imagine him

I try to impress you. You try to impress him

I stare at you. You stare at him

I’m  waving at you. You’re waving at him

It’s all about “I” and “You”

could be about He and Him

could be about She and Him

could be about He and Her

could be about She and Her

could be about Me and Her 

diambil dan dimodifikasi dari blog sang bidadari

Text 12 Feb Si Bijak yang Tak Sempurna
Kalian tau suku karo ? kalo tau ya syukur. Suku ini dulunya (mungkin terakhir sekitar 3 dekade yang lalu ) suka ngasi anaknya dengan nama yang terlalu familiar ama kita seperti kursi, bangku, siang, malam dan lain sebagainya. Kabarnya nama itu diberikan karena benda atau kejadian itu lagi dipikiran ataupun lagi ada didekat si orangtua. Untung aja Tuhan menempatkan gue di tahun 1990 dan di orangtua yang agak modern. Bukannya ga mau hidup susah coy, tapi gue ga mau hidup menderita dan malu. Bayangin aja kalo sampe lo punya nama toilet sembiring atau ngengek ( artinya boker dalam bahasa indonesia ) sembiring , bisa mati lo dihina dan dianiaya mental sama orang-orang.

Gue kenal beberapa orang yang bernama familiar tapi ya ngga separah yang gue contohin tadi juga sih. Yang mau gue kenalkan ama kalian kali ini bernama LOBAK SITEPU. Dia itu sepupunya bokap gue dan gue manggil dia kila ( sala satu sapaan buat paman dalam suku karo ), tinggal di tanah karo dan sayangnya gue lupa dia tinggal di desa apa. Sampai akhir hayatnya gue belum pernah menyempatkan diri kerumahnya. Ya, dia udah meninggal dan berpulangnya ke rumah Bapa baru baru ini. 

Kalian dulu punya semacam “zona bebas militer” dari orangtua ? gue sih punya. Ya, kila lobak inilah zona itu bagi gue. Ada suatu tata aturan dalam adat suku karo yang menyebabkan nyokap gue ga boleh ngobrol sama kila lobak. Alhasil gue senang banget tiap kila lobak datang karena selain dia selalu bawain jeruk yang jadi buah favorit gue, gue juga bebas banget main dekat dia tanpa harus takut dimarahin ama nyokap karena main terlalu lama. Selain itu cara dia nasehatin gue itu emang tipikal tetua yang bijak banget, beberapa nasehatnya masih teringat diotak gue. Gue juga cukup tertarik dengan adat istiadat suku karo, salah satunya adalah karena kila lobak juga. Dia sering banget jadi semacam MC untuk acara-acara adat yang kita adain dan sering juga bercandanya pake istilah adat dan walaupun gue ga ngerti banget, entah kenapa gue cukup terhibur.

Tapi ya namanya juga manusia, dia tentu ga sesempurna Tuhan. Pasti ada juga blunder yang bikin gue agak kecewa. Tapi ada pengecualian juga buat dia, karena dialah orang pertama yang bikin gue ga benci sama orang oleh karena kesalahan pertamanya. Saat gue tau blundernya, gue langsung berpikir kalo jangan sampe segala kebaikannya terlupakan sama ketidaksempurnaannya.

Dan diakhir tahun 2013 gunung sinabung kembali bertingkah hingga akhirnya tanggal 26 januari 2014 gue nerima direct message di twitter dari sepupu gue yang nanyain siapa Lobak Sitepu. Sontak saja tanpa pikir panjang langsung gue telpon dia dan kabar tak menyenangkan itu datang. Erupsi gunung sinabung jadi biang keladinya. Kila lobak memang punya masalah pernafasan yang cukup parah, dan udara kotor ditanah karo selepas erupsi gunung sinabung jadi tiketnya untuk bertemu Bapa.

Karena dia manusia, maka dia tak sempurna. Karena dia manusia, maka dia melakukan kesalahan dan berdosa. Karena dia manusia, dia tak abadi dan harus menghadap Bapa. Tuhan sudah selesai dengannya.

Text 20 Jan (Mungkin) Dipertemukan Tuhan

Tahun 2008 adalah pertama kali gue ngerasain jadi mahasiswa. Pada saat ini juga gue kenal dengan suatu kelompok yang kita sebut GEROBAK (Gerombolan Batak) yang isinya ga cuma orang batak, tapi lebih ke mahasiswa kristen yang kuliah di program sarjana akuntansi UNPAD. Dan gue termasuk dalam kelompok yang namanya GEROBAK 2008, karena kami angkatan 2008. Termasuklah dalam kelompok ini 2 orang yang udah kenal dari SMA dan berasal dari Jakarta, sebut saja namanya Erick & Desmond. Akhirnya salah satu dari mereka -gue lupa yang cerita- mengisahkan bagaimana mereka bisa bertemu. Singkat cerita, mereka ternyata satu gereja dan tersebutlah kalimat “kita dipertemukan Tuhan loh”.

Tahun ajaran baru 2013/2014 pun muncul, begitu juga dengan para maba (mahasiswa baru). Gue udah ga update lagi dengan para maba, terlebih lagi yang menurut orang maba cewek cakep maupun lucu. Gue juga ga kepikiran buat ngegebet salah satu maba 2013 ini karena sepupu gue juga diangkatan itu dan pastinya rusuh. Akhirnya gue cuma denger cerita para jomblo aja “si gre** itu cakep loh” “anak mene banyak banget loh yang cekep bang” “kalo mau yang oriental, sama del** lah” “oh, aku tau yang mana yang cocok sama abang, si ***anda aja ” “si jes** juga karo loh bang”(tanpa dia tau kalo ternyata itu sepupu gue). Percaya atau ngga, gue ga pernah nanyain pertanyaan yang menjurus pada tercetusnya kalimat-kalimat tersebut.

Mengacu pada judulnya, tulisan ini pastinya bukan tentang Erick dan Desmond. Ini tentang seorang wanita muda yang membuat gue tertarik ( Baca: suka) . Seperti biasa, kalau kita cerita sama orang lain -terlebih yang agak kepo- pasti muncul pertanyaan “apa yang kau suka dari dia ?”. Dan berhubung teman gue pada kepo, maka gue menyediakan jawaban standar “karena dia spesial, ibarat martabak telor spesial yang pake telor dan daging lebih banyak”. Dan selanjutnya akan muncul percakapan seperti ini: T=teman, H=gue

T: “maksudnya ibarat martabak telor spesial ?”

 H: “ga tau coy, soalnya itu yang kepikiran kalo dengar kata spesial”.

T: “aih, serius dulu”

H: “serius ini, soalnya enak kuliat martabak yang diseberang jalan itu. jadi lapar”

T: “cepatlah kasi tau, kasian ini kalo ada yang baca tulisanmu”

H: “biarkan ajalah, siapa suruh baca-baca”

Tapi yang pasti bagi gue dia spesial, kenapa ? Karena dia cukup aktif dalam melayani Tuhannya dan Tuhan kami sama. Biasanya saat gue dan teman-teman ngeliat para maba ada dalam suatu kegiatan dan melakukan aktivitas, sering kali terucap “Biasalah, masih maba” tapi yang satu ini selalu ga pernah bikin gue kepikiran pertanyaan itu dan sebaliknya malah muncul “baru kali ini loh gue liat ada maba yang kayak gitu” -tentunya karena aktivitas yang positif ya-. Dan satu hal lagi yang bikin gue ngerasa dia spesial adalah alasan utama biasanya gue tertarik sama cewek  kali ini ga gue pakai, ya kali ini gue ga mempertimbangkan penampilan fisiknya. Bagi orang dia cukup menarik, tapi bagi gue dia biasa aja. Ga cantik, gaa seksi dan ga modis, tapi gue bisa tertarik.

Lalu suatu ketika pertama kali gue ketemu sama dia, adalah di gereja. Sebenernya itu di set tanpa sepengetahuan gue karena ada junior yang mau ngedeketin gue sama temennya. Sayangnya yang ngaturin pun telat dan karena gue ga suka telat, gue masuk duluan sama teman kosan. DI elevator teman kosan ini dipanggil sama di doi, karena memang mereka udah kenal sebelumnya. Gue cuma ngeliat dan abis itu ya biasa aja, gue malah lebih ngelirik temannya saat itu. Akhirnya kita kenalan, ketemu di persekutuan doa -yang ini malah dia yang negur loh, gue malah ga ingat dia sama sekali- dan gue masih biasa aja. Tapi sepertinya Tuhan ga pernah bosan mempertemukan kami di setiap acaraNya. Seperti kata teman gue tadi “kami dipertemukan Tuhan”, entah untuk dipersatukan atau hanya sekedar bertemu.

Text 3 May PELAJARAN DARI PEMAKAMAN PAK HAZAINSYAH

Sebelumnya gue kenalkan dulu anda-anda semua dengan sosok yang gue sebutkan di judul tadi, dia adalah dosen di program studi akuntansi di Universitas Padjadjaran. Dia adalah salah satu dosen yang cukup dinantikan kehadirannya di absensi tempat nama mahasiswa dicantumkan. Menurut saya, cara dia ngajar ga terlalu jago tapi itulah yang hebat dari pak Haz ( sebutan kami untuknya ) karena kalau kita mau ngerti materi yang akan dibahasnya ya kita harus belajar dulu. Selain itu, Pak Haz juga termasuk dosen yang cukup baik dalam memberikan nilai, alasan utama kenapa banyak mahasiswa yang mendambakan kehadirannya.

Tapi bukan berarti Pak Haz ga pernah ngasi nilai yang ga cukup jelek seperti C, D, bahkan E. Luar biasanya, gue pernah nemu mahasiswa yang dikasi nilai yang ga bagus tapi gue ga pernah nemu mahasiswa yang mencaci, mencela, mengejek atau apapun itu karena dikasi nilai itu. Sangat disayangkan Indonesia kehilangan salah satu “pabrik” penghasil penerus bangsa yang berkualitas.

Akhirnya gue menyempatkan untuk ikut mengantarkan Pak Haz ke tempat peristirahatan terakhirnya walaupun cuma tidur 4 jam karena  nyempatin nonton semifinal liga champions eropa antara Real Madrid dan Borussia Dortmund. Selama menyusuri pintu masuk pemakaman hingga sampai di petak tempat peristirahatan terakhir Pak Haz, yang gue perhatiin cuma batu nisan yang berisi tanggal lahir dan tanggal pemiliknya berpulang. Ada yang menghabiskan waktu 50an, 60an, 70an, 80an atau bahkan cuma beberapa hari.

Yang gue pikirkan bukan sampai umur berapa gue hidup, tapi sampai umur berapa kira-kira bokap atau nyokap gue bakal hidup. Sampai posting ini dibuat, bokap gue udah berumur 55 tahun. Jika diasumsikan rata-rata umur manusia di Indonesia hanya mencapai 70an tahun, gue cuma punya waktu belasan tahun untuk membuat mereka bangga atau lebih bangga lagi sama gue. Itu pun kalau Tuhan berkehendak, bagaimana kalau Tuhan memanggil meerka lebih cepat ? itu berarti gue ga boleh membuang waktu sedikitpun jika gue memang ingin mewujudkan cita-cita gue, karena Tuhan ga pernah membocorkan rahasianya dan selalu suka memberikan kejutan bagi kita.

Text 18 Oct EDIT TUMBLR

Setelah sekian lama akhirnya gue ngerasa kalo tampilan tumblr gue terlalu sederhana. Akhirnya dengan bermodal laptop, jaringan internet, aplikasi google chrome, pengetahuna akan situs google.com, dan sedikit kepintaran, gue akhirnya nemu cara ngedit tumblr ini supaya ga biasa banget tampilannya.

caranya gue dapat dari tumblr seseorang dengan id identityope dan berikut beberapa tipsnya :

Cara Membuat Follow Me on Twitter Button

Sekarang saya mau kasih tips cara membuat follow me on twitter button seperti yang terlihat dibawah ini  :

1. Pergi ke https://twitter.com/about/resources/buttons

2. pada choose button pilih yang follow

3. pada button option isikan user nya dengan username twitter anda

4. atur option lainnya jika perlu

5. copy code yang ada di box di sebelah kanan lalu paste di customize —> description atau dimanapun tempat yang anda inginkan di edit bagian html nya.

6. selesai~

CARA MEMASANG MUSIC PLAYER DI TUMBLOG

Sering sekali dapet pertanyaan gimana caranya pasang music player di tumblog kita. Baiklah berikut step-stepnya kalo temen-temen pengen tumblrnya ada musiknya, semoga membantu

1. Pergi ke http://hypster.com.

2. Register, lalu log in.

3. Klik “Create Playlist”.

4. Isikan nama playlist yang kita mau, pilih lagunya.

5. Kembali ke “My Account”.

6. Klik gambar player skin yang ada di sebelah kanan.

7. Pilih jenis widget-nya (disarankan pilih yang “for tumblr/websites”).

8. Pilih skin yang disukai.

9. Klik Configure Settings.

10. Pada “Autostart”, pilih “Yes”.

11. Klik “Get Code”, copy kodenya.

12. Paste di Customize Appearance —> Info —> Description atau bisa juga di bagian Edit HTML dan terserah mau kamu simpan dimana

13. Klik Save. Selesai. :)

Text 5 Oct (MUNGKIN) MEREKALAH BIANG KEROK KEAMANAN NASIONAL

"KEAMANAN NASIONAL" biasanya cuma gue dengar pas nonton film asing dan biasanya jebolan hollywood. Biasanya film itu isinya tentang teroris-terorisanlah baik teroris arab, latin, rusia, ataupun warga amerika sendiri maupun kalau yang ada cerita makhluk asing alias alien. Biasanya masalah keamanan nasional disebut kalau mereka merasa ada ancaman yang bisa menyebabkan bencana bagi negeri mereka.

Dari sekian banyak film/serial yang pernah gue tonton dan menyinggung masalah keamanan nasional, salah satu yang membuat gue tertarik adalah serial WHITE COLLAR. Gue sih maklum kalo seandainya lo WNI sehingga ga tau serial ini karena serial ini ditanyangkan di channel asing FOX dan mungkin aja lo ga berminat buat langganan TV kabel ( pada masa gue masih cukup jarang yang pake TV kabel )

Sebelumnya gue ceritain dulu garis besarnya tentang apa serial ini. Serial ini bercerita tentang seorang “maling” kelas paus yang jago banget, biasanya sih dia maling benda seni dan perhiasan yang harganya gila-gila. Si maling yang bernama Neal Caffrey ini jenius banget, bayangkan aja ya kalo dia mau dia bisa bikin lukisan tiruan yang mirip banget kayak aslinya. Dia juga jago dalam menipu dan menyamar jadi profil yang dikehendakinya.

Tapi entah kenapa si Caffrey bisa terjebak sama FBI, hal ini membenarkan peribahasa “sepintar-pintarnya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga”. Akan tetapi si Caffrey ini ga dipenjara, dia cuma dikasi semacam pelacak dikakinya sehingga FBI bisa tau dia lagi dimana, dan kemudian dia menjadi semacam konsultan buat FBI dan memecahkan banyak kasus.

Hingga suatu saat Caffrey dan FBI menangkap seorang yang memiliki keahlian seperti Caffrey dan juga dikenal olehnya. Saat diinterogasi, si penjahat tadi bilang dia punya informasi yang berkaitan dengan masalah keamanan nasional dengan harapan agar FBI mau bernegoisasi agar tuntutan hukumannya dikurangi dengan alasan bekerjasama membantu pemerintah USA. Apakah masalah keamanan nasionalnya ? masalahnya ternyata pembuat paspor palsu dan FBI menganggap hal tersebut penting !!!!!!

Luar biasa saudara-saudara, bandingin aja sama calo paspor di negara kita. Beberapa calo bahkan mampu menyediakan paspor walaupun dokumen persyaratannya tidak lengkap asalkan berani bayar mahal. Gue udah pernah ngalamin yang kayak gini, pernah ditawain soalnya waktu di kantor imigrasi Bandung. Kebayang ga gimana jadinya kalau teroris di Indonesia buat paspor itu dan langsung cabut keluar negeri setelah ngebom ? Ntah itu calo maruk atau goblok gue ga ngerti lah ? Yang buat gue bingung itu adalah mereka bisa ngeluarin paspor itu karena sekongkol sama orang dalam. Bayangin aja lah, seandainya kejadian di serial tadi berdasarkan kondisi di Indonesia, udah sepanik apa coba si FBI itu ? Dan ntah apa yang harus kita lakukan supaya mereka berubah.

Buat lo yang pernah buat paspor sendiri dengan “jujur” pasti ngerti kenapa banyak orang yang masih mau pake calo. Kalo menurut gue sih, prosesnya terlalu panjang dan ribet. Gue masih maklum kalo proses yang panjang dan ribet  itu terjadi karena pihak imigrasi sedang memverifikasi kebenaran dokumen dan data yang kita lampirkan, tapi ini lamanya itu karena proses tunggu-menunggu. Habis dari sini, kita harus kesanalah dan ngantrinya lama. Ya gimana orang nolak kalo ada calo yang nawarin dan harganya terjangkau bagi calon pemilik paspor. Bayangin aja ya seandainya lo itu harus masuk kerja pagi hari dan ternyata lo mengidap penyakit yang agak kurang meyakinkan kalau proses pengobatannya di Indonesia, kapan lo mau ke kantor imigrasi ? senin-jumat buka kantornya lama, sabtu & minggu tutup. 

Gue ga mau munafik sih, calo itu menurut gue sah-sah aja. Kita punya duit dan mau bayar sementara mereka bisa mempercepat, ga ada yang salah menurut gue. Tapi gue cuma setuju kalau calo itu hanya mempercepat proses dan hanya menerima yang persyaratannya lengkap doang bukannya ntar malah buat paspor dari identitas yang kurang lengkap buktinya. Gue juga pake calo kok pas buat paspor, tapi persyaratan gue lengkap dan itu juga terpaksa karena masalah kesehatan gue. Bokap gue bayar orang dalam supaya proses yang lama bisa jadi cepat. Bayangin aja pas gue datang dan nyerahin berkas, dicek bentar, langsung foto, besoknya udah beres deh itu paspor. Gak mungkin lo bisa secepat itu kalau ikutin prosesnya mereka. 

Text 4 Oct meninggal dan ditangisi

Katanya, setiap makhluk hidup pasti akan mati dan jika manusia mati (biasanya) akan ada pemakaman. Anda kenal foto dibawah ini ?

Mungkin lo tau foto itu bercerita tentang apa. Kalau gue menempatkan posisi sebagai bukan orang yang membuat cerita ini, gue bakal berpikir kalau foto pertama   adalah foto seorang abdi negara ( bisa pejabat, bisa juga aparatur ) yang akan dimakamkan, foto kedua bercerita tentang seseorang -ntah siapapun itu- yang akan dikembalikan ke asalnya (baca: dimakamkan), dan foto ketiga bercerita tentang iring-iringan warga yang mengawal jenazah seseorang yang mungkin dulunya orang hebat menuju tempat yang mungkin jadi peristirahatan raganya ( tergantung ntar makamnya digusur atau ngga ).

Tapi secara garis besar, ketiga foto tersebut memiliki kesamaan. Apa kesamaannya ? menurut gue semua foto itu sama-sama menunjukkan bahwa ada banyak orang yang berpartisipasi dalam acara pengantaran jenzah ke liang kuburnya. Kalau dihubungkan dengan foto dibawah ini, apa yang yang bakal lo pikirin ?

Kalau gue jadi lo, gue pasti bakal mikir ” oh, jangan-jangan itu tadi dokumentasi pas  Gus Dur mau dimakamkan “. Kalau lo berpikiran seperti itu, lo benar banget coy. Semuanya merupakan dokumentasi foto warga yang ikut serta mengantarkan jasad mantan presiden yang satu ini ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kabarnya saat Gus Dur masih aktif dalam setiap organisasi yang diikutinya, dia merupakan orang yang sangat dihormati dan merupakan tokoh perdamaian. Gus Dur katanya dikenal sebagai orang yang sangat menghargai perbedaan SARA dan selalu berusaha agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi diskriminasi sikap apalagi pengucilan terhadap kelompok - kelompok tertentu.

Sejujurnya, gue ga terlalu mengenal sepak terjang Gus Dur karena sepertinya kehebatannya terjadi saat gue hanya mikirin uang jajan dan nilai rapor sekolah. Yang gue ingat dari Gus Dur hanyalah kasus BULOG GATE & BRUNEI GATE, seringnya ia berkunjung ke luar negeri (mungkin) untuk urusan diplomasi, dan saat ia sudah lengser dari kursi presiden RI dimana saat itu beliau “agak susah” keluar dari istana negara dan malah keluar dengan memakai celana pendek untuk menyapa warga. Tapi saat mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan bahwa ia orang yang hebat dan baik, maka gue harus percaya. Gue menyatakan wajar kalau ramai sekali orang yang mengantar kepergian beliau dan menangisinya. 

Inspirasi cerita ini lagi-lagi karena gue teringat bulang/kakek gue yang sudah meninggal saat gue kelas 2 SMA. Saat kabar kematiannya tersiar, banyak orang yang terkejut dan bersedih. Bahkan selama kira-kira 3 hari jasadnya disemayamkan di rumah, pelayat yang datang selalu ramai dan orangnya pun silih berganti. Yang gue liat adalah betapa mereka sangat bersedih dan kehilangan atas kepergian bulang. Bulang gue memang ga sehebat Gus Dur, dia itu cuma orang yang ga sekolah tapi ilmunya tinggi, pekerja keras dan orang miskin yang akhirnya berjuang hingga menjadi kaya dan menjadi “bank” bagi anaknya yang kesulitan keuangan dalam menjalankan usahanya.

Disamping itu beliau juga orang yang sangat memperhatikan keluarga besarnya. Kalau di suku gue keluarga besar itu berarti besar banget, bisa nyampe satu kampung karena terkadang teman sejawat yang dulunya sangat dekat bisa dianggap saudara. Dan bulang memperhatikan mereka semua. Terakhir kali gue sama bulang ke kampung, dia bawa duit cash yang banyak buat dibagiin ke sanak saudara terutama bocah-bocah. Selain itu, bulang juga membuat beberapa saudara memiliki kehidupan yang lebih baik secara langsung (langsung dikasi kerjaan) maupun secara ga langsung (ditawarkan ke temannya maupun anaknya agar dikasi kerjaan). Sebisa mungkin, saat beliau melihat seseorang memiliki keinginan untuk maju pasti dia bantu. Jadi ga heran kalau bulang ditangisi dan tidak direlakan kepergiannya, karena dia sudah berbuat baik terhadap banyak orang.

Hal itulah yang buat gue takut mati sekarang. Gue belum bisa berbuat banyak kebaikan terhadap orang lain karena gue berpikir kalau orang hebat itu dilihat saat dia meninggal, banyakkah orang yang bersedih karena kepergiannya ? banyakkah orang yang menangis karena kepergiannya ? dan sejujurnya gue berkeras hati untuk mati sebagai orang hebat.


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.