Tweet to @yudaheri Follow @yudaheri

Text 9 Aug Juveeeeee, storia di un grande amore

Minggu ini begitu sempurna, mungkin bisa dibilang minggu terbaik.

Diawali dengan dapat tiket nonton Juventus dari sebuah media olahraga online, ga dimarahin dosen pembimbing karena bombardir minta ketemuan ( biasanya kalau sms lebih dari 1 kali, ngamuk ) hingga akhirnya direstui untuk sidang dan dapat jadwal wawacara dan tanda tangan kontrak di 2 tempat berdekatan di waktu yang berdekatan dengan pertandingan Juventus. 

Diawalin dengan deg-degan, dilanjutkan dengan bersukacita, dan diakhiri dengan menikmati hidup selayaknya orang kaya. Maka tanggal 6 Agustus 2014, gue menjajal Stadion Utama Gelora Bung Karno. Bergabung dengan ribuan juventini lainnya hingga akhirnya hanya ada kata kami. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, kami udah mulai bernyanyi. Setiap ada bus yang masuk kelapangan, berhati-hatilah dengan telinga karena teriakan dari para fans yang rindu pun mulai dikeluarkan. Walaupun ternyata tak satupun ditumpangi pemain Juventus.

Juventus pada saat ini dihuni beberapa pemain yang bisa dibilang cukup punya nama besar. Tapi suporter Indonesia memang unik, kami ga hanya mengelu-elukan nama besarnya saja. Yang ga pernah main pun kami teriakkan, begitu pula yang dianggap cupu. Bahkan nama pemain muda keturunan Indonesia yang menurut gue prospeknya untuk bersinar di timnas italia cukup kecil pun tetap kami teriakkan selayaknya dia bintang utama di tim ini. Setiap ada pemain yang ke pinggir lapangan untuk tendangan sudut, bersiap jugalah untuk tutup telinga.

Tak hanya pita suara kami yang bandel, otak kami pun tak mau menerima perintah dari pengeras suara yang bilang ga boleh ada flare, petasan dan kembang api. Kami mencintai tim dari Italia dan kami berpesta dengan cara Italia, jadi jangan heran kalau jadi namanya Curva Fiesta. Untungnya pesta kami ga kebablasan, GBK masih sehat dan belum hangus terbakar.

Dan buat yang belum pernah nonton di stadion, kalian harus coba. Kalau nonton dari televisi sih emang lebih jelas, tapi nonton di stadion lebih menyatu dengan pertandingan. Sewaktu nonton dari televisi, gue bisa bilang kalau pemain yang gagal menaklukkan kiper pasti karena gugup. Tapi kalau nonton distadion, gue ga akan bilang karena gue ngerasain sendiri kegugupannya. 

Momen paling sakral dari pertandingan kali ini adalah saat panitia memutar lagu STORIA DI UN GRANDE AMORE tapi saat bagian reff lagu dihentikan dan hanya suara para fans yang terdengar hingga bikin merinding. Tapi yang paling gue suka ya karena disana hanya ada kami. Gue bisa dengan bebas mendiskusikan aksi para pemain dengan orang yang ga gue kenal. Gue datang kesana sendiri tapi ga ernah merasa asing. Dan satu lagi, kami juga bersorak sorai saat gawang Juventus kebobolan, toh di ISL all star juga ada putra terbaik bangsa yang beraksi. 

Waktu bersenang-senang sudah usai, saatnya otak ini diperas. Ada dua entitas yang menunggu keputusan

image

image

Ini foto pesta kami yang diambil dari @JCIndonesia. Semoga kelak kalian bisa merasakan pesta seperti ini.

Text 29 Jul Jatuh cinta pada Juventus dan akhirnya lagi

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

Juventus Football Club S.p.A.

Jatuh cinta pada klub yang satu ini sebenarnya pada awal musim 2004/2005. Sekali lagi, AWAL bukan AKHIR musim saat mereka akhirnya menjadi Raja Italia lagi walaupun akhirnya dikudeta dari luar lapangan. Tapi ngikutin perkembangan sepakbola udah sejak sebelum Toni bikin gol pada debutnya di serie A, sebelum Papa Bouba Diop mencetak gol yang buat Senegal di pertandingan pembuka Piala Dunia 2002, bahkan sebelum Solskjaer jadi malapetaka FC Hollywood. Dan akhirnya gue jatuh ke pelukan Ratu Serie A.

Dan agak aneh sebenarnya. Saat itu Liga Italia begitu memukau, klub-klub papan atasnya cukup disegani di kancah Eropa. Penyerang mana yang tak gugup berhadapan dengan Buffon, Toldo ataupun Dida, pemain mana yang ga panik dijaga Cannavaro, Thuram, Nesta ataupun Stam, gelandang mana yang bisa mematikan kreativitas Pirlo, Stankovic, ataupun Nedved, dan pertahanan mana yang ga ketakutan bila berhadapan dengan Shevchenko, Trezeguet, Adriano ataupun Totti. Tapi bukan itu keanehan yang gue maksud, keanehannya karena di Juventus saat itu ga ada lini terkuat di Serie A versi gue. Barisan pertahanan depan dan tengah terbaik menurut gue saat itu milik AC Milan. Dulu bahkan gue sempat menganggap kalau pemain yang bisa menjebol gawang yang dikawal Dida beserta “bodyguard” seperti Cafu, Nesta, Stam, dan Maldini udah pasti pemain yang luar biasa jagonya. Kreatifitas lini tengah yang dikomandani Pirlo saat itu bisa bikin permainan Milan jadi disiplin. Bisa terus menguasai bola, tapi ga membosankan kayak tiki-taka. Kalo untuk lini depan, favorit gue saat itu trio Cassano, Totti, dan Montella kepunyaan AS Roma yang hampir selalu berjaya saat mereka mengoyak gawang lawan.

Jadi kesimpulannya tak ada lini yang jadi favorit gue di Juventus. Kenapa bisa jadi ngefans ? Sewaktu Juventus terpuruk sebelum kedatangan Conte, Nedved pernah bilang kalau pemain saat itu ga punya semangat juang selayaknya pemain Juventus. Ya, itu yang bikin gue jatuh cinta. Tapi bukan yang “ga punya semangat juang” itu coy. Musim 2004/2005, semangat juang Juventus luar biasa. Ga pernah kapok buat lari terus mengejar kemenangan. Hal itu yang bisa buat pemain cadangan semacam Zalayeta terkadang dipercayakan untuk menjemput kemenangan saat lawan tim kelas kakap bahkan sekelas Real Madrid. Saat itu semua pemain jadi favorit buat gue, terkecuali Antonio Chimenti sih. Kalau ditanya siapa yang jadi favorit di Juventus saat itu, jawaban gue malah Luciano Moggi, Antonio Giraudo & Roberto Bettega. Transfer yang mereka buat selalu cocok dengan karakter Juventus, kalau winning team masih mungkin diperkuat, pasti mereka perkuat. Tapi kalau winning team udah kuat, mereka coba memperkuat cadangan dan mulai regenerasi pemain. Mereka ga pernah kalap hingga merusak keseimbangan tim seperti tim-tim berduit saat ini. Bagi gue pribadi, hukuman dari calciopoli yang terberat bukanlah degradasi, tapi saat Moggi tak bisa lagi berkontribusi. Calciopoli memang jadi senjata olokan buat fans tim lawan, tapi seorang juventini yang selalu melihat semangat juang disetiap Juventus bertanding pasti tak akan percaya adanya Calciopoli. Dan akhirnya semangat juang itu telah kembali. Dengan semangat itu gue ga akan pernah kecewa saat Juventus mengalami kekalahan, sama seperti dahulu. Karena bukan panen kejayaan yang bikin gue jatuh cinta.

Text 10 Jul Dear God

Hai Bapa.

Maaf kita jarang ngobrol lagi.

Kau kan tau sifat anakMu ini.

Kalau tindakannya sedang jauh dariMu, pasti ga berani menghadapMu.

Tapi akhir-akhir ini bukannya aku menghindariMu.

Aku memang sama sekali lupa.

Ga biasanya aku lupa laporan padaMu selama ini.

Agak aneh memang.

Bahkan aku agak sering dengar lagu rohani akhir-akhir ini.

Tentunya lagu rohani yang menyebut Engkau.

Tapi itupun cuma sekedar bikin kepala adem.

Ga bisa bikin ingat padaMU.

Tapi syukurlah lupanya ga lebih lama.

Akhirnya kita bisa ngobrol lewat doa.

Terima kasih udah narik aku lagi.

Aku bakal coba biar ga main di tempat yang jauh dariMu.

Tapi tolong bantu ya.

Takutnya ga tahan godaan kalau sendiri.

Ahhh, ngomong apa aku ini.

Sudah pastilah Kau membantuku tanpa diminta.

Maklumlah, sekedar mencari topik pembicaraan.

Kan sudah lama kita ga berbincang.

Masa setelah sekian lama ngobrolnya cuma sebentar.

Terima kasih atas penyemangat yang engkau berikan.

Entah kenapa Kau begitu baik.

Dan juga begitu pintar tentunya.

Selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Kau ga pernah terlambat, bahkan saat kupikir udah terlambat.

Padahal semua janjiku padaMu ga pernah tahan lama.

Tanggal kadaluarsa janjiku selalu cepat.

Dan juga selalu kucari alasan buat pembenaran pelanggaran janjiku.

Mudah-mudahan janjiku kedepannya ga begitu lagi.

Bisa awet, seperti kasihMu.

Akhir-akhir ini aku mencoba mencermati berbagai hal.

Terutama situasi yang terjadi dilingkunganku dan keluarga.

Tolong bantu menerjemahkan maksudMu ya Bapa.

Aku takut salah.

Jangan sampai kuterjemahkan menjadi apa yang ku mau.

Bukan menjadi kehendakMu atasku.

Dan kuatkan ku juga untuk membagikan berbagai hal dihidupku.

Mudah-mudahan orang lain dapat melihat kasihMu dalam kisahku.

Ya, kisah indah yang kau atur untukku.

Walaupun kata orang itu ga indah, tapi aku percaya padaMu.

Bahwa engkau sungguh baik.

Bahkan bagiku, Kau terlalu baik.

Ahh, maaf kalau celotehanku terlalu panjang.

Entah kenapa begitu damai bersamaMu.

Cuma tetap aja aku suka bodoh menjauhiMu.

Maklum saja kalau jadinya sepanjang ini.

Karena malam ini aku rindu Engkau.

Doaku tadi saja tak kurasa cukup.

Dan bisa kurasakan kau berbisik.

"Jangan jauh-jauh lagi ya nak"

Sampai aku menangis ini.

Dan akhirnya kuucapkan terima kasih.

Mungkin cuma itu dulu yang bisa kulakukan.

Besok akan kucoba jadi anakMu yang engkau kehendaki.

Tapi maaf kalau aku terlalu lancang menyebut diriku sebagai anakMu.

Karena sesungguhnya itulah keinginan utamaku.

Selamat bersenang-senang dengan anakMu yang lain.

Semoga saja cuma aku yang paling nakal.

Selamat Malam Bapa

Text 29 Jun Bastardo

"Dunia maya semakin menjengkelkan", itulah yang ada dalam pikiran anak muda ini dalam 2 bulan terakhir. Tapi situasi menjengkelkan itu mudah-mudahan sih cuma sampe pemilu selesai. Dulu gue cukup jengkel dengan tingkah laku para fans tim sepakbola yang begitu mendewakan tim favoritnya dan mendukungnya segenap jiwa dan raga sehingga menganggap fans dari tim pesaing adalah musuh yang kalau ada kesempatan harus selalu dihina. Yang barusan sih memang udah semacam ritual wajib. Haram hukumnya untuk memuji kehebatan tim lain, mengakui kalau kalau tim lain ditindas wasit apalagi mengakui kalau pemain tim sendiri melakukan perbuatan tak sportif seperti "menyelam". Persaingan gila ini bahkan bisa membuat teman serumah berantem. Keributan pun tak segan menghampiri orang-orang yang sebelumnya ga pernah punya masalah satu sama lain hanya demi sesosok manusia yang hanya mereka kenal melalui media. Iya, cuma media, tak sedikitpun pengenalan (beberapa) dari mereka karena mereka mengetahui cara hidup sang sosok secara langsung. Ya ini kisah nyata, sayangnya begitu.

Tak lama sebelum bacotan ini masuk ke dunia maya yang menjengkelkan itu, gue dengan terpaksa harus unfollow, block, hide dan melakukan tindakan lainnya terhadap beberapa akun dari beberapa media sosial yang gue pakai. Bukan karena gue pendukung salah satu sosok dan sang kenalan terus mendukung sosok lawan dengan media sosialnya, bukan pula karena sang kenalan selalu “mengejek” sosok pesaing jagoannya dengan berbagai hal. Karena gue bukan fanboy salah seorang capres, alasan-alasan itu tak sepenuhnya jadi bahan pertimbangan penghilangan berita dari si kenalan. Tapi memang karena faktor ejekan juga sih, tapi karena 1 ejekan yang sangat spesifik dengan pola pikir yang paling gue benci.

Gue ga masalah dengan saling ejek, tapi ga untuk yang satu ini. Ejekan yang gue maksud adalah ejekan yang didasari dengan pola pikir bahwa seorang sosok punya masa lalu yang tidak baik dan dia akan membawa masa lalu itu saat dia berkuasa. Dalam bahasa yang lebih sederhana, seorang bajingan selamanya akan tetap jadi seorang bajingan, jadi jangan pernah mempercayai seseorang yang pernah jadi seorang bajingan. Kenapa gue ga suka ama yang satu ini ? karena gue sukanya ama cewek cantik coy. Ya selain alasan itu, karena masa lalu gue adalah juga seorang bajingan. Sekarang masih sih, ga berani gue bilang kalo udah ngga lagi. Tapi gue selalu berusaha untuk ga jadi bajingan lagi, target akhir gue ya jadi orang baik dimata Tuhan. Gue ga berani bilang sekarang udah tobat jadi bajingannya, tapi gue berani bilang kalo kadarnya udah agak kurang (sedikit). Kalo seluruh orang yang berani ngeklaim dirinya orang baik itu punya pemikiran kayak si kenalan gue tadi, maka mungkin gue sebaiknya ga usah berlama-lama hidup karena gue ga akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk membuktikan diri dalam hal apapun. Kalo gitu, mungkin lebih baik penjara dikosongkan aja, para narapidana dikonversi jadi bangke aja karena toh mereka akan selalu dianggap sebagai penjahat dan ga akan pernah dapat tempat dimanapun kecuali diantara spesies sejenisnya.

Gue memang naif, tapi menurut bagi gue mengharapkan seseorang ga akan pernah “terpeleset” ataupun yang hobinya “terpeleset” ga akan pernah berdiri dengan tegak itu juga sama naifnya. Kenapa mikir gitu ? Teringat 2 kisah dari Alkitab tentang Raja Daud dan Paulus. Saat Raja Daud dipanggil Tuhan, dia adalah seorang yang penurut dan bisa dibilang anak idaman orangtua muda lah. Tapi pada akhirnya, dia tetap “terpeleset”. Lalu siapa Paulus ? Awalnya ia bernama Saulus dan hobinya membangkekan pengikut Kristus dan akhirnya Tuhan memilihnya. Dosanya udah parah loh itu, bukannya dihukum menderita sampai mati eh malah dikasi hukuman dengan opsi pembebasan. Yang dari awal baik aja bisa terpeleset, apalagi yang dari awalnya rusak. Tapi Dia tetap dipanggil dan mengerjakan hobi barunya yang menjadi kesenangan Tuhan. Dan itu sudah cukup jadi bukti bagi gue, seorang bajingan pun layak diberi kesempatan. Tak semua bajingan ingin selamanya jadi bajingan  

Text 15 May REACH END STATION

image

Piala Dunia 2014 semakin dekat, dan negara-negara pesertanya pun sudah ditetapkan beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang gue tertarik sama semboyan mereka. Semboyan-semboyannya cukup bagus, dan berikut daftar semboyan setiap negara peserta :

Aljazairمحاربي الصحراء فى البرازيل (Desert Warriors In Brazil)

Argentina: NO SOMOS UN EQUIPO, SOMOS UN PAÍS. (Not just a team, we are a country)

Australia: SOCCEROOS: HOPPING OUR WAY INTO HISTORY! 

Belgia: VERWACHT JE AAN HET ONMOGELIJKE! // ATTENDEZ-VOUS À L’IMPOSSIBLE! (Expect The Impossible!)

Bosnia & Herzegovina: ZMAJEVI U SRCU…ZMAJEVI NA TERENU! (Dragons In Heart, Dragons On The Field!)

Brasil: PREPAREM-SE! O HEXA ESTÁ CHEGANDO! (Brace Yourselves! The 6th Is Coming!)

Kamerun: UN LION DEMEURE UN LION (A lion remains a Lion)

Chili: ¡CHI, CHI, CHI, LE, LE, LE! ¡VIVA CHILE! (Chi Chi Chi!, Le Le Le! Go Chile)

Kolombia: AQUÍ NO VIAJA UN EQUIPO, ¡VIAJA TODO UN PAìS! (Here travels a nation, not just a team!)

Kosta Rika: MI PASIÓN EL FÚTBOL, MI FORTALEZA MI GENTE, MI ORGULLO COSTA RICA (My passion is football, my strength is my people, my pride is Costa Rica)

Pantai Gading: LES ÉLÉPHANTS A LA CONQUÊTE DU BRÉSIL (Elephants charging towards Brazil!)

Kroasia: S VATROM U SRCIMA ZA HRVATSKU SVI KAO JEDAN! (With Fire In Our Hearts, For Croatia All As One!)

Ekuador: UN COMPROMISO,UNA PASIÓN, UN SOLO CORAZÓN, ¡VA POR TI ECUADOR! (One Commitment, One Passion, Only One Heart, This Is For You Ecuador!)

Inggris: THE DREAM OF ONE TEAM, THE HEARTBEAT OF MILLIONS!! 

Prancis: IMPOSSIBLE N’EST PAS FRANCAIS (Impossible Is Not A French Word)

Jerman: EIN LAND, EINE MANNSCHAFT, EIN TRAUM (One Nation, One Team, One Dream!)

Ghana: BLACK STARS: HERE TO ILLUMINATE BRAZIL

Yunani: ΟΙ ΗΡΩΕΣ ΠΑΙΖΟΥΝ ΟΠΩΣ ΟΙ ΕΛΛΗΝΕΣ’ (Heroes Play Like Greeks)

Honduras: SOMOS UN PUEBLO, UNA NACIÓN, CINCO ESTRELLAS DE CORAZÓN (We are one country, one nation, five stars on the heart)

Iran: افتخار پارس (Honour Of Persia)

Italia: COLORIAMO D’AZZURRO IL SOGNO MONDIALE (Let’s paint the FIFA World Cup dream blue)

Jepang: サムライよ!! 戦いの時はきた!!  (Samurai, The Time Has Come To Fight!)

Korea Selatan즐겨라, 대한민국!  (Enjoy it, Reds!)

MeksikoSIEMPRE UNIDOS… ¡SIEMPRE AZTECAS! (Always united, Always aztecas)

Belanda: ECHTE MANNEN DRAGEN ORANJE (Real Men Wear Orange)

Nigeria: ONLY TOGETHER WE CAN WIN

Portugal: O PASSADO É HISTÓRIA, O FUTURO É A VITÓRIA. (The past is history. The future is victory)

Rusia: НАС НЕ ДОГОНЯТ!!! (No one can catch us!!!)

Spanyol: EN NUESTRO CORAZÓN, LA PASIÓN DE UN CAMPEÓN  (Inside our hearts, the passion of a champion)

Swiss: END STATION: 13.07.2014 MARACANA!

UruguayTRES MILLONES DE ILUSIONES…. VAMOS URUGUAY (Three million dreams … Let’s go Uruguay)

Amerika Serikat: UNITED BY TEAM, DRIVEN BY PASSION

Tapi sebelumnya, gue flashback dulu ke tahun 2004 yang penuh kejutan bagi pecinta sepakbola yang udah menikmati sepakbola di tahun itu. Kejutan itu bernama Yunani. Jadi juara Piala Eropa atau yang lebih dikenal kuping dengan nama EURO, tanpa pemain yang bisa dianggap bintang. Beberapa pemainnya semacam Traianos Dellas, Stelios Giannakopoulos, Angelos Charisteas, Demis Nikolaidis, Takis Fyssas, Zisis Vryzas, Giorgos Karagounis memang main di klub yang berlaga di liga elit eropa, tapi cuma sebagai pemain cadangan. Syukur-syukur kalo bisa masuk bench. Mereka bisa menyingkirkan Perancis ( yang saat itu jadi favorit juara hampir semua penggemar sepakbola ), Republik Ceko ( satu-satunya tim yang bisa dapat poin sempurna dan paling produktif di fase grup, kemudian akhinrya jadi favorit juara ), Portugal ( yang saat itu diperkuat banyak pemain yang baru juara liga champions eropa dan saat itu banyak calon bintang semacam CR7). Mereka berani bermimpi, berani berjuang dan kemudian jadi juara.

Diantara sekian banyak semboyan negara-negara peserta piala dunia 2014, satu yang paling menyentil gue adalah swiss dengan “END STATION: 13.07.2014 MARACANA!”nya. Karena Swiss cukup terkenal akan jaringan transpostasi keretanya, makanya julukan mereka adak berhubungan dengan itu. Dari situlah asal-muasal kata END Station, menegaskan kemana tujuan akhir timnas ini. 13.07.2014 merujuk pada tanggal final piala dunia, dan MARACANA merujuk pada stadion yang akan dipakai di final nanti. Kenapa gue tersentil ? karena yang bikin status -  eh semboyan maksudnya - adalah negara yang ga menjadi favorit, dianggap kuda hitam pun ngga. Pemain pilarnya mungkin cukup dikenal, tapi tetap aja mereka bukan kandidat kuat juara.

Kalau ada orang ( bukan warga negara swiss dan ga ada hubungannya dengan swiss ) yang berani ikut taruhan dan bertaruh kalo swiss bakal juara, pasti dianggap orang gila itu orang. Tapi setidaknya mereka berani bermimpi, berani berandai-andai, berani berangan-angan, dan mau bangun untuk memperjuangkan mimpi mereka. Kalau bermimpi pun tak berani, apalagi memperjuangkannya. Ya kalo gitu gimana bisa sukses ya kan. Siapa tau mereka bisa jadi neraka bagi tim-tim lain seperti yang pernah dilakukan Yunani. 

Lalu dimanakah END STATIONmu ? kalo gue sih, di hati adek itu. Halah

Text 11 May NYALI

image

Semua bermula dari kunjungan ke depok, bukan saat negara api menyerang ya. Gue lupa kalo ternyata liga basket profesional Indonesia / National Basketball League (NBL) bakal menggelar seri Jakarta. Tapi untungnya gue punya sepupu yang hobi nonton basket live  yang bisa dijadiin reminder alarm. Setelah membulatkan tekad untuk menghadapi kemacetan diibukota negara tercinta dan menyiapkan mental untuk miskin saat di Bandung maka gue berangkat menuju tempat perhelatan, Hall A Basket Senayan.

Sebenarnya rangkaian pertandingan udah dimulai semenjak siang, tapi berhubung yang kami incar cuma pertandingan terakhir maka kami baru berangkat sore hari. Dan ternyata itu keputusan salah karena kursi penonton udah pada penuh dan terpaksa skill menyusup agak sedikit diaplikasikan. Berbanding terbalik dengan penonton pertandingan sepakbola, penonton basket (kali ini) cukup terjaga penampilannya. Pantesan aja beberapa pria cukup betah nontonin pertandingan basket. Kalo udah agak bosan dengan pertandingannya, lo bisa sebentar (lama juga bisa sih) memalingkan wajah ke arah wanita - wanita lucu nan menggemaskan.

Dari dulu gue selalu bingung, dimana nyari cewek kristen yang gaul, gak kaku dan asik. Jawabannya di pertandingan basket NBL coy. Ga sedikit bidadari lucu nan menarik hati yang gue temukan berkalungkan salib, dan yang paling penting GA ADA COWOK YANG MENDAMPINGI MEREKA !!!!!!!! Iyalah, semenakjubkan apapun san wanita tapi kalau ada yang mendampingi maka semua sia-sia anak muda.

Karena begitu telatnya pertandingan dari jadwal, maka kami masih sempat menyaksikan pertandingan sebelumnya yang sebenarnya biggest match. Pertandingan kali ini melibatkan Asbak melawan Ksatria Tua ( keduanya memang nama samaran ). Kedua tim ini punya beberapa pemain beragama kristen dan beberapa diantara mereka membuat tanda salib sebelum masuk ke lapangan. Kalau gue yang jadi Allah, pasti gue galau nih mau menangin yang mana. Tanda salib, ya itulah yang jadi perhatian gue.

Dulu orangtua gue pernah ngingatin beberapa hal ke gue, dan semua hal yang mereka suruh gue ingat merupakan hal-hal yang harusnya dipegang teguh selama gue hidup. Salah satunya adalah untuk tidak ragu mengakui bahwa gue adalah seorang kristiani dan percaya bahwa Yesus Kristus telah menebus dosa umat manusia dengan darahNya dan kematianNya. Untuk tidak melepas dan mengingkari identitas itu karena takut gue ga bisa mendapatkan tujuan gue. Saat mereka melakukan gerakan membentuk tanda salib dibadan mereka, saat itu gue senang karena ada kristiani-kristiani lain yang ga ragu menunjukkan siapa Tuhan mereka, yang ga takut kalo mereka dijauhi fans lain yang bertuhan beda. 

Kemudian beberapa hari yang lalu, tak sengaja tertontonlah sebuah film yang rilisan tahun 1996, Jerry Macguire namanya. Filmnya tentang seorang agen pemain american football yang begitu dekat bahkan secara emosi dengan pemain yang diageninya. Hal yang tak wajar dalam hubungan profesional antara pemain  dan agen. Tapi bukan itu yang bikin gue tertarik. Ada satu scene yang memperlihatkan kerumunan penonton dan ada yang menarik disitu, setidaknya bagi gue menarik. Gue suka nonton film seri NCIS dan salah satu karakter di tokoh itu punya banyak peraturan bagi timnya. Satu yang berkesan adalah “fokus pada hal-hal yang kecil, bahkan pada yang tak terduga”, hal yang jadi kebiasaan baru bagi gue. Dan salah satu aplikasinya adalah dalam mengamati film Jerry Macguire tadi. Di kerumunan penonton tadi tak sengaja terlihat seorang penonton membawa kertas dalam ukuran yang agak besar bertuliskan “John 3:16”. 

Lalu seketika ngebayangin ada ga ya yang berani bawa kertas besar bertuliskan ayat Alkitab kayak tadi di pertandingan Persib vs Persija ?  Lalu seketika pikiran ini terlalu liar dan mulai muncul pertanyaan ” kenapa ga seorang heri yang aja yang melakukannya? ” Dasar pikiran kurang ajar, bisa-bisanya menyusahkan sang pemikir.

Dua kejadian yang berbeda dalam dimensi yang berbeda, satu nyata satunya lagi cuma khayalan yang divisualisasikan. Tapi mengajarkan sesuatu bagi gue, malukah engkau dengan siapa yang kau pilih jadi juruselamatmu ? lebih takut sama ciptaan apa sama pencipta ?

Alasan gue berdoa cuma menutupkan mata kalo lagi di tempat umum adalah berdoa bisa dengan berbagai cara, tapi itu cuma pembenaran. Sebenarnya karena  ”ga enak dilihat orang ?” “malu dilihat dilihat orang” dan lain-lain ? Kalau identitasmu saja tak berani kau ungkap, bagaimana mungkin “kabar baik” itu berani kau sampaikan. Cukup berNYALIkah dirimu untuk melaksanakan tugas dari Tuhanmu her ? 

Kalau belum ? Sampai kapan ?

Text 11 May Cikole I’m in Quote

image

Dasar pria-pria jomblo ( ada juga yang pacaran, tapi pacarannya rasa jomblo ), malam minggu pasti ngumpul sama yang itu-itu aja. Sudah 4 bulan kami merencakan untuk main ke ciater, dan sudah beberapa kali juga menetapkan waktu berangkat serta tak lupa melewatkan tanggal-tanggalnya. Dengan ijin Yang Maha Kuasa pula akhirnya kami mewujudkan impian seorang teman untuk menginjakkan kaki disana. 

Maka kami berangkat dengan tawa yang sebagian diantaranya berlatarbelakang curhat. Sesampainya didaerah yang bernama cikole, tersebutlah sebuah quote yang (seingatku) berbunyi “hard to forget someone who gave you so much”. Maka seketika gue ingat akan seseorang yang bikin memory agak penuh dan mulai mempertanyakan yang dia kasi ke gue apaan.

Semenjak resmi jadi “target operasi” dia begitu baik dan perhatian. Dia yang berani berdebat dengan gue saat ga mau gereja. Dia yang bikin gue semangat untuk belajar dan naikin IPK. Dia yang bikin otak gue bekerja lebih keras saat ngerjain suatu kepanitiaan supaya bisa bikin dia kagum. Dia yang bikin gue selalu berapi-api. Semuanya mungkin tanpa dia sadari, tapi dia yang bikin. Padahal kami belum resmi bersama.

Sayangnya kami berbeda.

Tapi bukan dia doang kok yang  gave me so much”. Tuhan gue udah kasi sesuatu yang begitu berharga buat gue, JAMINAN KESELAMATAN. Tuhan gue udah berkorban begitu banyak buat gue. Jangankan untuk melupakan, untuk berpisah dariNya pun gue ga bisa. 

Agak kesal sih karena kami berbeda. Dan terpaksa gue mengundurkan diri darinya, karena untungnya gue ga punya nyali. Gue ga berani ngambil resiko yang bisa bikin gue jauh dariNya. Tapi syukurlah masih ada kata untungnya.

Text 1 Apr Arahan dari Sang Esa

Ada satu fakta tentang gue, sangat benci ikut kegiatan yang harus menguras tenaga dan kegiatan itu suka melibatkan variabel iman.

Itulah sebabnya gue udah lama menolak untuk terlibat dalam segala kegiatan persekutuan mahasiswa kristen di lingkungan kampus. Dan kali ini gue mau menerima ikut dalam kepanitiaan yang namanya retret. Ga konsisten dengan fakta ? belum tentu coy. Sewaktu gue diminta tolong untuk ngebantu kegiatan ini, gue mau dimasukin di divisi yang kalo dinilai secara profesional ga perlu ada di dunia ini karena jobdesknya agak gak jelas dan jatuhnya seakan kerjaannya ga membutuhkan tenaga yang besar. Dari bentuk awalnya aja gue udah ngerasa kalo kegiatan ini bakal ribet pengerjaannya. Tapi entah kenapa Tuhan ga mengijinkan sedikit pun opini negatif untuk mampir dan bikin gue dengan tegas menolak untuk ikut kegiatan ini.

Selama kuliah, gue udah sering ikut dalam berbagai kegiatan, mulai dari yang lingkupnya sekecil himpunan hingga menempati posisi penting di kegiatan dengan lingkup nasional. Hal ini yang membuat gue terlatih dalam mengorganisir suatu kegiatan dan ga heran kalo seorang alumni di Navigator pernah bilang “cepat-cepatlah kau lulus ri, biar ada yang mengorganisir alumni untuk ketemuan”. 

Bagaimana dengan mengatur sebuah kegiatan dengan spesies retret? Sulitkah ? Tentu ngga. Cukup 2 kata “tentu ngga”, itulah yang ada dalam pikiran gue saat  baru ikutan rapat kegiatan retret kampus bandung ini. Selain nyari dana dan nyari peserta, semua kegiatan bisa gue kerjain “sendiri” dari januari akhir hingga hari-H dengan 3 konsep perencanaan. Sombong ? maklumlah, namanya juga anak muda yang sudah ditempuh dalam berbagai medan dengan keyakinan yang membara. Dan nanti akan gue ceritain bagaimana gue dibikin mencium tanah sama Tuhan.

Seakan waktu berjalan, kebencian terhadap pengunaan kata iman semakin tumbuh. Entah kenapa gue ngerasa iman sering digunakan secara sembarangan untuk ga bersikap antisipatif. Berarti gue ga beriman? Bukan. Gue paling suka dengan ” Do the best, and let GOD do the rest”, akan tetapi yang sering gue temui adalah kita biasanya ga pernah benar-benar “Do the best” saat melibatkan variabel iman dan biasanya kita juga ga pernah benar-benar mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk. Kebencian yang bikin gue mulai acuh atak acuh dan juga mulai berani berontak dikit. Mulai menumbuhkan niat untuk pergi dari lingkungan ini. 

Seiring mendekatnya waktu pelaksanaan beberapa ketidaksempurnaan dan keputusan yang menurut gue salah diambil pun terjadi. As I predict, itulah yang terngiang dipikiran gue. Dan akhrinya Tuhan datang pada gue dengan membawa hadiah yang sangat indah, MASALAH. Masalah yang diberikannya sebenarnya gampang, tapi kok rasanya agak berat untuk diselesaikan. Seakan Dia pengen mempermalukan gue karena berani sombong dengan kemampuan sendiri. Selama proses pengerjaan retret ini, tak sekalipun gue berdoa meminta bantuan padaNya. Tak sekalipun gue rela meluangkan waktu untuk bercerita tentangnya mengenai keluh kesah gue walaupun sudah sering kali diingatkan melalui grup panitia retret. Sikap antisipatif gue membawa gue pada satu hal yang sangat fatal, melupakanNya. Dia datang membawa masalah bagi yang lain, tapi harus gue yang ngerjain. Masalah itu gue terjemahin seperti ” katanya mampu. cots ah “. Seketika itu gue dijatuhkan hingga mencium bumi. Seketika itu gue sadar bahwa sikap antisipatif gue sudah kelewat batas, terlalu lancang karena tak menganggap hadiratNya. Gue pernah dengar quote “GOD has a beautiful plan for us. Unfortunately, we are distracted while He is directing us to His plan”. Dan saat gue hampir teralihkan, dia mengirimkan masalah untuk membenarkan arah gue. Dia membuat gue “terpaksa” mengerjakan masalah itu (agak lebay juga sih kalo dibilang masalah) agar retret bisa berjalan dengan gangguan yang ga terlalu banyak karena Dia pengen gue dengar beberapa firmanNya di retret ini, merasa ditampar dan sadar.

Seperti yang gue bilang sebelumnya, akhirnya entah kenapa gue ga tega ngebiarin retret ini. Entah kenapa, bersama seorang partner kami mengambil beberapa inisiatif untuk mengatasi beberapa keputusan yang menurut gue salah diambil. Entah kenapa gue mau mengajukan diri untuk menyediakan beberapa kebutuhan yang agak sulit dipenuhi. Lo bayangin aja coy, dimana gue nyari bambu coba. Entah kenapa gue mau begadang demi nyusun daftar penghuni kamar dengan menggunakan banyak banget pertimbangan dengan harapan interaksi terjadi maksimal. Entah kenapa gue rela memotong waktu nyantai demi memastikan para peserta berangkat tanpa ketinggalan. Entah kenapa juga gue rela cape-cape demi hal yang ga ada manfaatnya buat gue. Entah kenapa tiba-tiba pola pikir gue tiba-tiba berubah.

Jumlah peserta yang jauh dari target membuat gue cukup ngerasa jatuh seakan Tuhan ga merestui retret ini. Jumlahnya memang As I Predict, tapi tetap aja berharap paling ngga beda tipislah selisihnya ama target. Hingga pembimbing pelayanan bilang ke gue, kalo gue ga boleh ngejadiin kuantitas sebagai tolak ukur keberhasilan. Kalaupun cuma sedikit yang ikut tapi mereka merasa terberkati, maka itu udah berhasil banget. 

Dan hingga hari pelaksanaan, berbagai cobaan datang. Untuk pertama kalinya, selama 2 hari berturut-turut gue makan obat hipertensi 2 kali dosis normal. Tapi untuk pertama kalinya juga gue menemukan ketidaksempurnaan dan memakluminya. Untuk pertama kalinya gue bisa begadang, tidur 3 jam dan bangun tanpa bantuan alarm. Untuk pertama kalinya gue nemu retret yang bisa bikin orang-orang yang awalnya ga saling kenal jadi kompak seakan udah bertahun-tahun kenal. Untuk pertama kalinya gue nemu peserta retret yang kecewa retretnya mau udahan karena mereka ngerasain sukacita. Untuk pertama kalinya gue nemuin orang yang malas saat teduh tapi jadi semangat saat teduh di retret ini. Untuk pertama kalinya gue ngerasa kangen banget sama Tuhan dan pengen bersamaNya terus.

Akhirnya adalah sebuah happy ending. Wajah sukacita terpancar dari masing-masing peserta. Otot-otot tangan yang tegang, hamstring yang kambuh, goresan-goresan tipis di badan, dan darah yang beberapa kali mengalir dari tangan tak ada artinya dengan wajah sukacita itu. Terlebih saat melihat seorang wanita yang curi-curi pandang pada seorang pria, saat seorang pria berusaha keras menanyakan data seorang wanita pada panitia, saat beberapa wanita serentak mengganti foto di BBMnya dengan seorang pria tampan dan yang paling pecah menuru gue adalah saat seorang wanita diam-diam memfoto seorang pria.

Lo dapat apa her ? 

Banyak. Satu hal yang paling penting adalah gue harus memperbaiki visi yang udah gue tetapkan sebelumnya. Bukan merubahnya secara total, tapi merubah motivasinya. Mungkin Dia pengen kalo gue melibatkanNya dalam proses penjemputan visi gue, dan tujuan akhir dari visi adalah Dia. 

Gue dapat oleh-oleh berupa satu ayat yang cukup berkesan bagi gue dalam 1 Korintus 15: 58 yang berbunyi:

 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Defenisikan sendiri kawan.

 

Saat retret berlangsung gue juga dapat kabar kalo bokap sakit dan akan dibawa ke Penang. Terakhir kali kesana sih agak parah, semoga kali ini ga terlalu parah. Cuma sayangnya pikiran gue akhirnya bercabang dan berbagai sikap jelek pun terlihat. Tapi gue percaya saat itupun Dia sedang mengarahkan gue.

Text 6 Mar dokter….

Pernah dengar Prita Mulyasari ? bagi yang mungkin belum tahu siapa si kawan ini, simaklah baik-baik. Ibu ini cuma ibu rumah tangga biasa sebelum tahun 2009. Pada tahun 2009, dia berjodoh dengan sebuah penyakit dan penyakit itu salah didiagnosis oleh salah satu dokter di rumah sakit yang kabarnya rumah sakit elit. Sejujurnya kenapa gue pake istilah rumah sakit elit, adalah karena takut ntar ada orang rumah sakitnya yang ngeliat ketikan ini terus gue digugat dan dipenjara pula kayak bu Prita.

Sekitar tahun 2006, sepupu gue yang anak kedokteran di salah satu universitas negeri di pulau sumatera ( lagi-lagi disamarkan banget karena takut dituntut ) bercerita kalau dia nyari orang-orang dengan penyakit “cupu” untuk diobati karena dia bakal diuji dengan ngobatin 5 orang ( siapapun orangnya, yang penting datang pas dia diuji ). Cerdik, karena dia mempersiapkan dirinya dengan baik. Salah satu temannya sial karena saat giliran dia, datanglah seorang yang kulitnya kayak lilin dan dia pun kebingungan. Sekali lagi cerdik. Salah ? tentu ngga.

Malam ini teman gue dimintain tolong temannya yang lagi kuliah di fakultas kedokteran gigi yang katanya kalau mau lulus harus diuji sama seperti sepupu gue tadi. Akhirnya gue bilang kalo rata-rata mahasiswa kedokteran apapun itu melakukan hal begituan. Nyari pasien yang nyaris sehat buat diperiksa untuk menghindari hal-hal buruk kayak teman sepupu gue tadi. Maksud perkataan gue adalah mereka cerdik, sayang si kawan ini emang orangnya susah objektif dan jadinya salah nangkap maksud gue. Dipikirnya gue cuma ngejelek-jelekin aksi mahasiswa itu. Tapi kalaupun iya, gue ga akan menyesal karena sejujurnya gue sangat kecewa dengan tindakan mereka. Cerdik ? ya. Tapi lo mau ditangani oleh yang punya latar belakang kayak gitu ?

Tapi gue ga menghakimi kalau semua mahasiswa kedokteran (kedokteran apapun itu) seperti itu loh ya. Di Indonesia masih banyak dokter hebat dari lulusan universitas dalam negeri. 

Dengar-dengar dari kerabat yang berkecimpung didunia kedokteran, katanya apa yg mereka pelajari itu juga bakal mereka terapkan. Beda sama anak ekonomi yang kuliahnya dan kerjanya cuma bakal in line kalo lo kerjanya jadi dosen, peneliti, konsultan, atau auditor. Dan sampai sekarang gue belum pernah dengar lulusan kedokteran dari universitas manapun pas awal karirnya ga jadi dokter umum dan lulusan kedokteran gigi pas awal karirnya ga jadi dokter gigi.

Gue bersyukur kalau keluarga dekat gue ga sampai jadi korban malpraktik yang sampe parah banget. Tapi biar gue ceritain sedikit tentang pengalaman keluarga dan saudara - saudara gue yang berhubungan ama dokter :

David Sembiring, itu nama bokap gue. Kalau dia mempercayai dokter terbaik di rumah sakit yang katanya terbak di kota medan, mungkin 6 tahun yang lalu dia udah bersama Tuhan. Waktu itu keluhannya simpel, cuma ga enak tidur diposisi apapun dan dokter bilang ga ada apa-apa. Untungnya beberapa bulan sebelumnya kakek gue meninggal dengan keluhan awal yang sama. Karena sepulang dari rumah sakit masih ga sembuh juga, dilarikanlah bokap gue ini ke Pulau Pinang ( biasa dikenal penang ) karena nyokap takut berakhir sama dengan kakek gue. Tau apa hasilnya ? Tumor jenis baru. Bokap gue jadi orang pertama yang mengidap penyakit itu.

Kak Siska, begitu kami biasa memanggilnya. Saat itu dia adalah seorang ibu dengan anak kembar tiga yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Saat dia meninggal, anaknya mungkin masih berumur 1 atau 2 tahun. Apa penyebab meninggalnya ? hanya karena cabut gigi di dokter. Sepele kan ? tapi efeknya bisa kayak gitu loh

Victor Sembiring, saudara kembar bokap gue. Pasangan kembar ini emang kompak banget dalam hal penyakit. Beruntungnya saat ini dia masih hidup dan semua itu karena kasih karunia Tuhan. Kenapa dengan bapak ini ? cuma didiagnosis keropos tulang sama dokter kok. Beruntung akhinrya dia dibawa ke tempat yang sama dengan bokap gue di Pulau Pinang, sehingga ketahuan penyakit sebenarnya. Kanker ! ya, kanker yang udah menyebar dan berpusat di ginjal kalo ga salah. Tulang rusuknya udah keropos parah, bahkan salah satu ruasnya udah habis.

Atas dasar pengalaman tersebutlah, maka gue ga mau mendukung kecerdikan teman-teman mahasiswa itu. Diatas ada tiga pengalaman, 1 selamat, 1 tidak beruntung, dan 1 lagi sangat terlambat. Mau ?

Oiya, tulisan ini sedikit dilatarbelakangi bumbu-bumbu egoisme. Tanpa memperdulikan seorang dokter yang biasanya bener kalo nyembuhin keluarga gue. Juga dengan anggapan kalo dokter itu ga boleh bermain-main dengan pasiennya. Bagi gue, tanpa alasan apapun dokter harus terus berhati-hati saat menghadapi pasiennya.

Quote 26 Feb 277 notes
Dengan penampilan yang sama, seorang perempuan bisa terlihat lebih cantik tiap harinya, mungkin sang pria jatuh cinta.
— 

Kuncoro Atmojo

(via kurniawangunadi)


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.